JAKARTA - Di tengah dinamika pasar modal yang fluktuatif, ada sejumlah emiten yang justru menunjukkan kombinasi menarik antara kinerja keuangan yang solid dan valuasi yang relatif rendah.
Salah satunya adalah PT Global Mediacom Tbk (BMTR), emiten yang dikenal sebagai bagian dari portofolio investor kawakan Lo Kheng Hong.
Meski pendapatan mengalami penurunan, perusahaan ini justru berhasil mencatat lonjakan laba yang cukup signifikan sepanjang tahun 2025.
Fenomena ini menjadi sorotan karena menunjukkan adanya efisiensi operasional dan kontribusi faktor lain di luar pendapatan utama.
Bagi pelaku pasar, kondisi seperti ini sering kali membuka peluang analisis lebih dalam terkait valuasi saham yang dianggap masih murah dibandingkan fundamental perusahaan.
Laba Bersih Melonjak Signifikan
Emiten portofolio Lo Kheng Hong PT Global Mediacom Tbk (BMTR) membukukan laba tahun berjalan yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk Rp 770,97 miliar sepanjang tahun 2025. Angka laba bersih tersebut melonjak 43,46% dari Rp 537,39 miliar pada tahun 2024.
Per 31 Desember 2025, laba per saham dasar pun meningkat menjadi Rp 47,1 dari sebelumnya Rp 32,9. Kenaikan ini mencerminkan peningkatan profitabilitas perusahaan yang cukup kuat di tengah tekanan pada sisi pendapatan.
Lonjakan laba tersebut menjadi indikator bahwa perusahaan mampu mengelola biaya dan sumber pendapatan lain secara efektif. Hal ini penting karena menunjukkan ketahanan bisnis BMTR dalam menghadapi perubahan kondisi pasar.
Pendapatan Menurun Namun Beban Ikut Turun
Sebenarnya, pendapatan atau omzet Global Mediacom menurun dari Rp 10,05 triliun menjadi Rp 9,59 triliun. Beban pokok pendapatan juga menyusut jadi Rp 5,72 triliun dari sebelumnya Rp 6,01 triliun.
Laba kotor pun mengecil ke posisi Rp 3,87 triliun dari posisi Rp 4,03 triliun. Penurunan ini mencerminkan adanya tekanan pada sisi top line perusahaan, meskipun tidak terlalu dalam.
Namun, penurunan beban pokok pendapatan menunjukkan adanya efisiensi yang dilakukan manajemen. Langkah ini membantu menjaga margin perusahaan agar tidak tergerus lebih jauh.
Kondisi ini sering kali menjadi perhatian investor karena menunjukkan bagaimana perusahaan beradaptasi dalam situasi pendapatan yang tidak tumbuh. Efisiensi biaya menjadi salah satu kunci utama dalam menjaga kinerja tetap positif.
Dukungan Pendapatan Lain Dorong Kinerja
Tapi laba sebelum pajak BMTR bisa menguat ke Rp 1,33 triliun dari Rp 1,04 triliun karena ditopang lain-lain bersih Rp 358,27 miliar. Kontribusi dari pos lain-lain ini menjadi faktor penting dalam mendorong peningkatan laba secara keseluruhan.
Peran pendapatan non-operasional sering kali menjadi penyeimbang ketika pendapatan utama mengalami tekanan. Dalam kasus BMTR, komponen ini terbukti mampu memberikan dorongan signifikan terhadap kinerja keuangan.
Selain itu, struktur keuangan perusahaan juga terlihat cukup kuat. Emiten Hary Tanoesoedibjo ini membukukan total aset Rp 34,19 triliun, liabilitas Rp 6,69 triliun, dan ekuitas Rp 28,21 triliun.
Komposisi tersebut menunjukkan tingkat leverage yang relatif rendah, sehingga memberikan ruang yang lebih luas bagi perusahaan untuk melakukan ekspansi atau menghadapi risiko di masa depan.
Valuasi Saham Masih Rendah
Saham BMTR ditutup stagnan di Rp 127 pada perdagangan Selasa. Rasio price to book value (PBV) hanya 0,13 kali dan price earning ratio (PER) 2,73 kali.
Valuasi ini tergolong sangat rendah jika dibandingkan dengan rata-rata pasar. PBV di bawah satu kali menunjukkan bahwa harga saham diperdagangkan jauh di bawah nilai bukunya, sementara PER yang rendah mencerminkan harga saham yang murah dibandingkan laba yang dihasilkan.
Kondisi ini sering kali menarik perhatian investor yang mencari saham undervalued. Namun, tetap diperlukan analisis lebih lanjut untuk memahami faktor-faktor yang memengaruhi persepsi pasar terhadap saham tersebut.
Dengan kombinasi antara peningkatan laba dan valuasi yang rendah, BMTR menjadi salah satu emiten yang layak diperhatikan. Meski demikian, investor tetap perlu mempertimbangkan berbagai aspek, termasuk prospek bisnis dan kondisi industri secara keseluruhan.
Ke depan, kinerja BMTR akan sangat dipengaruhi oleh kemampuan perusahaan dalam menjaga efisiensi, meningkatkan pendapatan, serta memanfaatkan peluang dari lini bisnis yang dimiliki. Jika strategi tersebut berjalan dengan baik, bukan tidak mungkin valuasi sahamnya akan mengalami penyesuaian.