JAKARTA - Upaya pemulihan maskapai nasional mulai menunjukkan arah yang lebih baik setelah melewati berbagai tantangan berat dalam beberapa tahun terakhir.
Perbaikan ini tidak terjadi secara instan, melainkan melalui serangkaian langkah strategis yang dilakukan secara bertahap. Awal tahun 2026 menjadi titik penting dalam melihat hasil dari berbagai kebijakan yang telah dijalankan sebelumnya.
Badan Pengelola Investasi Danantara menegaskan perbaikan kinerja PT Garuda Indonesia Tbk mulai terlihat di awal tahun 2026. Hal ini tidak terlepas dari dampak intervensi suntikan dana yang dilakukan pada tahun sebelumnya. Langkah tersebut menjadi fondasi utama dalam proses pemulihan perusahaan.
Chief Operating Officer Danantara sekaligus Kepala BP BUMN Dony Oskaria di Jakarta mengatakan tekanan kinerja yang masih tercermin dalam laporan keuangan 2025 merupakan kondisi sebelum intervensi berjalan.
Ia menjelaskan bahwa kondisi tersebut belum mencerminkan hasil dari langkah perbaikan yang telah dilakukan. Oleh karena itu, evaluasi kinerja perlu dilihat dalam konteks waktu yang lebih luas.
Dampak Intervensi Mulai Terlihat Bertahap
"Itu kan problem yang dibukukan hari ini itu kan pendapatan 2025. Intervensi yang kita lakukan itu kan baru di akhir (tahun 2025). Nanti akan terlihat performa di awal 2026. Nanti kan kita akan keluarkan di quarter 1 dan quarter 2," kata Dony. Pernyataan ini menunjukkan bahwa perubahan kinerja membutuhkan waktu untuk terlihat secara nyata. Proses pemulihan tidak bisa dinilai secara instan.
Ia menegaskan bahwa intervensi yang dilakukan merupakan langkah awal untuk memperbaiki kondisi perusahaan. Dampaknya mulai terlihat secara bertahap seiring berjalannya waktu. Hal ini memberikan harapan baru bagi masa depan Garuda Indonesia.
Dengan adanya intervensi tersebut, perusahaan diharapkan mampu meningkatkan efisiensi operasional. Langkah ini juga bertujuan untuk memperbaiki struktur keuangan yang sebelumnya mengalami tekanan. Proses ini menjadi bagian penting dalam transformasi perusahaan.
Tantangan Operasional yang Dihadapi Garuda
Dony menjelaskan, salah satu faktor utama yang menekan kinerja Garuda sepanjang 2025 adalah tingginya jumlah pesawat yang tidak beroperasi atau grounded. Kondisi ini tetap menimbulkan biaya yang cukup besar, terutama dari sisi sewa pesawat. Hal tersebut menjadi beban yang signifikan bagi perusahaan.
"Sebelum dilakukan intervensi oleh Danantara, berapa grounded-nya. Nah, sekarang berapa yang sudah terbang. Tetapi itu pun belum bisa 100 persen," jelasnya. Pernyataan ini menunjukkan adanya perbaikan meskipun belum sepenuhnya optimal. Proses pemulihan masih terus berlangsung.
Selain itu, tantangan lain yang dihadapi adalah proses perawatan pesawat atau maintenance, repair, and overhaul yang membutuhkan waktu panjang. Proses ini tidak hanya memakan biaya, tetapi juga berdampak pada ketersediaan armada. Oleh karena itu, manajemen harus mengelola hal ini dengan cermat.
Peran Citilink dalam Pemulihan Kinerja
Meski masih menghadapi berbagai tantangan, Dony memastikan sinyal perbaikan mulai tampak pada 2026. Ia menyebut kinerja anak usaha Garuda, Citilink, telah mencatatkan hasil positif pada kuartal pertama 2026. Hal ini menjadi indikasi awal pemulihan grup Garuda Indonesia secara keseluruhan.
"Kita masih banyak PR-nya yang terus kita lakukan. Karena kan tidak cukup hanya dengan memberikan uang. Tapi juga transformasinya," tegasnya. Pernyataan ini menegaskan bahwa pemulihan tidak hanya bergantung pada suntikan dana. Transformasi bisnis menjadi faktor kunci dalam keberhasilan jangka panjang.
Peran Citilink dalam mencatatkan kinerja positif memberikan dorongan tambahan bagi grup Garuda. Hal ini menunjukkan bahwa strategi yang diterapkan mulai membuahkan hasil. Dengan demikian, optimisme terhadap masa depan perusahaan semakin meningkat.
Langkah Strategis dan Harapan Ke Depan
Adapun Garuda Indonesia masih mencatatkan tekanan kinerja dengan rugi bersih sebesar 319,39 juta dolar AS sepanjang 2025. Angka ini mencerminkan kondisi sebelum dampak intervensi sepenuhnya dirasakan. Oleh karena itu, hasil ke depan diharapkan akan menunjukkan perbaikan yang lebih signifikan.
Direktur Utama Garuda Indonesia Glenny H. Kairupan menegaskan tambahan modal sebesar Rp23,67 triliun dari Danantara Asset Management menjadi dorongan penting. Dana tersebut digunakan untuk memperkuat transformasi bisnis maskapai. Langkah ini menjadi bagian dari strategi pemulihan jangka panjang.
Dari total Rp23,67 triliun, sekitar Rp8,7 triliun dialokasikan untuk kebutuhan modal kerja seperti pemeliharaan pesawat dan peningkatan layanan. Sedangkan Rp14,9 triliun diperuntukkan memperkuat operasional Citilink, termasuk pelunasan kewajiban bahan bakar kepada Pertamina periode 2019 hingga 2021. Dengan strategi ini, Garuda Indonesia diharapkan mampu kembali tumbuh dan bersaing secara sehat di industri penerbangan.